whatsapp button

February 13, 2021

Benarkah Merokok Bisa Memicu Kebotakan?

BLOG-benarkah-merokok-bisa-memicu-kebotakan

Sumber Gambar: Unsplash


Kebotakan berpotensi dialami oleh banyak pria. Jika merokok, maka peluang mengalaminya kian bertambah besar. Selain buruk bagi kesehatan, rokok terbukti dapat mendorong kerontokan rambut.

Kebotakan pada pria memang dapat terjadi karena berbagai hal. Faktor genetis, hormon, hingga masalah kesehatan dapat menghadirkannya. Namun, gaya hidup yang buruk juga memperbesar peluang seseorang menjadi botak.

Salah satunya merokok. Kebiasaan mengisap nikotin ini ternyata erat dengan kerontokan rambut. Jangan sepelekan hal ini. Rambut yang rontok secara berlebihan dan kontinu sering menjadi awal mula kebotakan.

Hasil riset yang diterbitkan oleh Archieves of Dermatology bisa menjadi pengingat. Sesudah meneliti 740 pria berumur 40 hingga 41 tahun di Taiwan pada 2007, terungkap jelas bahwa perokok lebih berpeluang besar mengalami kerontokan rambut.

Mereka yang mengisap 20 batang rokok atau lebih dari sehari terbukti berpotensi mengalami kerontokan rambut dua kali lebih besar daripada yang tidak merokok. Padahal, semuanya sama-sama tidak memiliki sejarah kebotakan di keluarganya.


Pengaruh Rokok Terhadap Aliran Darah

Hal mendasar yang membuat rokok dapat memicu kerontokan rambut terkait dengan aliran darah. Rokok mengganggu kelancaran sirkulasinya. Faktor ini yang membuat rambut bisa rontok.

Semua bagian tubuh memerlukan aliran darah yang lancar agar berfungsi optimal. Organ dan semua bagian tubuh perlu nutrisi dan oksigen agar bekerja normal dari darah.

Area kulit kepala yang menjadi lokasi folikel rambut berada juga sama. Butuh aliran darah yang baik supaya kondisinya selalu sehat. Namun, jika merokok, hal tersebut dapat terganggu.

Kandungan nikotin di dalam rokok yang menjadi akar masalah. Nikotin menghambat kelancaran sirkulasi darah di folikel. Akibatnya nutrisi dan oksigen yang dibutuhkan untuk folikel berkembang tidak diperoleh.

Hal yang terjadi adalah fase rambut beristirahat akan semakin panjang. Sebaliknya, fase pertumbuhan malah terhenti. Kondisi ini pun memicu kerontokan rambut yang berpotensi menghadirkan kebotakan.

Setelah rambut rontok, folikel rambut yang kurang sehat tidak segera mempersiapkan pertumbuhan rambut baru. Kebotakan akhirnya bisa terjadi.


Peningkatan Hormon DHT

Pengaruh negatif rokok bukan hanya berkaitan dengan aliran darah. Kandungan nikotin di dalamnya ternyata mengganggu sistem endokrin. Ini juga berhubungan erat dengan kebotakan.

Katika sistem endoktrin terganggu, maka jumlah hormon Dihydrotestosterone (DHT) cenderung meningkat. Apa yang terjadi? DHT yang berlebihan membuat folikel mengerut dan mengecil. Lama-kelamaan folikel akhirnya berhenti menumbuhkan rambut. Faktor ini bisa mendorong kebotakan.

Begitu rambut rontok, tidak akan ada rambut baru yang menggantikannya. Folikel sudah terlanjur kecil atau bahkan menutup. Kalau terus berlanjut, maka tidak akan ada lagi rambut yang tumbuh.

Oleh sebab itu, hindari merokok jika tidak ingin rambut botak. Rokok cenderung merusak imunitas tubuh. Ini dapat pula berpengaruh ke kesehatan yang memburuk. Ingat, kondisi tubuh yang tidak fit dapat pula mendorong kerontokan rambut.

Bukan hanya itu, nikotin di dalam rokok memicu stres bagi tubuh. Hal ini pun bisa memperburuk kesehatan rambut.

Perokok disarankan mengurangi rokok dan melakukan perawatan dengan Sozomen hair serum yang bisa melancarkan aliran darah pada folikel. Selain itu, hair growth capsule Sozomen mengandung finastride yang mampu mencegah pembentukan hormon DHT.


Artikel Lainnya

Mengenal Minoxidil yang Ampuh dalam Menghilangkan Kebotakan

Banyak sekali solusi kebotakan yang ditawarkan. Namun, jika ingin mendapatkan hasil pasti yang sudah terbukti klinis, minoxidil menjadi jawabannya.

Mengenal Tahapan Kebotakan Berdasar Skala Norwood

Deteksi dini kebotakan diperlukan guna mempercepat perawatan. Maka, untuk mempermudah pendeteksiannya, keberadaan Skala Norwood akan bermanfaat.

Kebotakan Karena Keturunan Berasal dari Garis Ayah Atau Ibu?

Faktor genetis memang bisa memengaruhi potensi kebotakan seseorang. Mereka yang memiliki garis keturunan botak potensial akan mengalami hal serupa. lantas apakah dari kerabat dari ayah atau ibu yang lebih berperan?